Free day.
Hari yang kami tunggu-tunggu selama sepekan ini. Hari dimana kami bebas dari keterikatan jadwal latihan-latihan. Hari dimana kami bebas bangun tidur jam berapa saja. Dan hari dimana kami akan refreshing dan berjalan-jalan. Cihhuuuy..!
Tapi sayangnya ada beberapa teman kami yang harus pulang ke Surabaya siang ini. Termasuk Kak Lia juga. Jadi Kak Lia tidak bisa ikut berjalan-jalan dengan kami. Tak terasa hari itulah hari terakhir kami bertemu dengan pelatih yang supel, humoris, dan friendly seperti dia.
Setelah sarapan pagi, PS Remaja Jawa Timur, beberapa PS Anak Jawa Timur, beserta masing-masing official berangkat berwisata. Kami memulai wisata kami ke Pulau Kumala, di kota Tenggarong, sekitar 1 jam dari Samarinda. Satu hal yang menarik, kami akan berwisata seharian dengan menaiki angkot alias bemo. Seru juga..
Pulau Kumala adalah sebuah pulau yang letaknya berada di tengah-tengah Sungai Mahakam yang luas itu. Sungguh salah satu pemandangan yang unik. Didalamnya terdapat beraneka wahana permainan dan taman-taman indah yang sayang untuk dilewatkan. Untuk sampai ke Pulau Kumala kami menggunakan jasa perahu boat yang dikenakan biaya 2000 per orang. Tapi kami merasa kecewa setelah sampai di Pulau itu. Tidak ada satupun orang disana. Dengan kata lain, Kawasan wisata tersebut masih tutup. Baru buka pada siang hari. Karena kami tidak bisa berlama-lama menunggu, akhirnya kami memutuskan untuk kembali menyebrang ke kota Tenggarong. Awal perjalanan yang buruk.
Setelah Pulau Kumala, kami diajak untuk mengunjungi museum Kutai Kartanegara yang letaknya tidak jauh dari Pulau Kumala. Museum ini berisi benda-benda peninggalan kerajaan – kerajaan tua di daerah tersebut. Cukup menarik.
Perjalanan berikutnya menuju museum Kayu yang letaknya berada di tepian hutan. Kata penduduk setempat didalam museum tersebut terdapat berbagai jenis buaya yang diawetkan. Tapi sekali lagi kami belum beruntung karena museum tersebut tutup. Mungkin karena hari ini hari Jumat. Pegawai masih melaksanakan sholat Jumat.
Untuk mengobati rasa kecewa dan rasa lapar kami, kami berangkat menuju sebuah rumah makan yang ada di tepi jalan raya. Tersedia beberapa menu seafood yang wajib saya cicipi. Diantaranya sambal goreng ebi, sate kerang, ikan bakar, dan masih banyak lagi. Rasanya pun sangat cocok untuk perut lapar. ^^,
Setelah kenyang, kami lanjutkan wisata kami ke sebuah perkampungan suku dayak, di daerah Pampang. Disana kami melihat budaya-budaya suku Dayak yang unik dan beragam souvenir handmade tersedia disana. Tapi kami tidak boleh menjepret foto sembarangan disana,. Setiap satu kali jepretan foto dengan orang Dayak, dikenakan biaya sebesar Rp 10.000,-. Untuk berpose dengan menggunakan baju adat asli Dayak, dikenakan biaya Rp 25.000,-. Yah, apalah arti uang sebanyak itu untuk sebuah pengalaman yang belum tentu terjadi untuk yang kedua kalinya.
Setelah puas bercengkrama dengan suku Dayak dan membeli bermacam-macam souvenir, Kami kembali ke Samarinda. Kami dibawa ke tempat yang kami tunggu-tunggu sejak tadi, yaitu ke pasar Niaga. Pusat souvenir dan oleh-oleh.
Perburuan pun dimulai. Masing-masing kami mulai sibuk mencari oleh-oleh untuk kerabat di Surabaya. Saya juga sibuk menawar harga. Lumayan susah juga. Hingga akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 17.30 WITA dan kami harus segera kembali ke Hotel untuk mengikuti upacara penutupan Pesparawi Nasional IX. Saya sudah berhasil memborong 2 buah kaos bertuliskan KALTIM (untuk saya dan beloved boyfriend), 3 buah gelang dari batu warna-warni untuk Ibu, beberapa sack Amplang dan Kuku Macan untuk cemilan dirumah dan untuk CAMER (hehe) , dan banyak sekali gantungan kunci untuk teman – teman kampus.
Perjalanan pulang menuju hotel sempat membuat saya tertidur walaupun sebentar. Hari ini sudah cukup membuat saya dan teman-teman lelah. Tapi kami mendapat cukup banyak pengalaman indah disini. Sesampainya di Hotel, tidak ada waktu untuk beristirahat. Hanya ada waktu untuk makan malam dan mandi, setelah itu kami harus segera meluncur ke gedung lomba untuk mengikuti upacara penutupan sekaligus pengumuman lomba.
Saat – saat yang mendebarkan..
Kami benar-benar sudah mempersiapkan mata, hati, dan telinga untuk mendengarkan pengumuman ini, dengan memanjatkan doa pengharapan kepada Tuhan. Saya tahu, hampir semua kontingen pasti melakukan hal yang sama dengan yang saya lakukan.
Dan akhirnya kami mendengarnya, kami sungguh-sungguh memastikan bahwa kami tidak salah dengar.
Inilah hasil yang diperoleh kontingen Jawa Timur
Solo Remaja Putra : Perak
Solo Remaja Putri : Emas (juara III)
Paduan Suara Anak : Emas (juara III)
Paduan Suara Remaja : Perak
Paduan Suara Dewasa : Emas (juara III)
Paduan Suara Etnik : Perak
Yah, kami tetap bersyukur. Setidaknya Jawa Timur masih punya tempat di podium untuk menerima 3 buah emas, walaupun itu bukan dari PS Remaja. =’(
Dan yang menjadi juara umum adalah... Sulawesi Utara.
Kalian tahu apa yang saya pikirkan? Andai saya bisa memutar waktu, saya akan lakukan apapun agar 7 bulan latihan yang saya jalani tidak sia-sia, agar 7 bulan latihan itu membuahkan hasil. Better than silver. I mean, GOLD.
Tapi kami bisa belajar banyak sepulang dari sini. Wawasan kami juga semakin luas. Kami pun semakin mengerti kunci kesuksesan itu berawal dari kerja keras yang luar biasa. Dan jangan cepat puas akan hasil yang kita dapat. Saya semakin sadar bahwa kata-kata Kak Lia benar-benar membuat kami menyesal saat ini. Betapa tulinya kami setiap Kak Lia mengajak kami untuk lebih maju, tapi kami tidak menghiraukan.
Hm. Tidak boleh ada penyesalan! Justru kita harus brsyukur karena boleh mendapatkan banyak pengalaman yang luar biasa. Yang penting kita sudah berusaha untuk beri yang terbaik buat Tuhan & sudah mempersembahkan talenta yang Tuhan beri buat kita.
Tetap serukan jargon kita : pasti JATIM!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar